A.
Ajaran Plotinos
1. Teori Metafisika Plotinus
1. Teori Metafisika Plotinus
Kesamaan antara Plato dan Plotinus terletak pada konsep
realitas idea. Meskipun begitu terdapat pula perbedaan diantara keduanya. Pada
Plato idea bersifat umum, sedangkan pada Plotinus idea bersifat partikular sama
dengan dunia yang partikular. Sistem metafisika Plotinus ditandai oleh
transendens. Menurut pendapatnya di dalam fikiran terdapat tiga realitas, The
one, The Mind dan The Soul.
The One (Yang Esa) adalah
Tuhan dalam pandangan Philo. Yaitu realitas yang tidak mungkin difahami melalui
metode sains, indera dan logika. Ia berada di luar eksisitensi, di luar segala
nilai. Keberadaannya bersifat transenden dan hanya dapat dihayati. Ia dapat
didekati dengan tanda-tanda dalam alam.
Realitas kedua adalah nous (The Mind). Ini adalah gambaran
tentang yang Esa dan di dalamnya mengandung idea-idea Plato. Idea-idea itu
merupakan bentuk asli objek-objek. Kandungan nous adalah benar-benar kesatuan.
Untuk menghayatinya mesti malalui perenungan.
Sedangkan
The
Soul yang merupakan bagian ketiga dari filsafat Plotinus diartikan
sebagai arsitek semua fenomena yang ada di alam ini. Soul mengandung satu jiwa
dunia dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, ia
adalah energi yang ada di belakang dunia dan pada waktu yang sama ia adalah
bentuk-bentuk alamsemesta.
Dalam ajaran Plotinus, jiwa tidak bergantung pada materi,
atau dengan kata lain jiwa aktif dan materi bersifat pasif. Oleh karena itu
jiwa merupakan esensi tubuh material. Tubuh dengan segala keterbatasannya ini
berisi prinsip-prinsip ketiadaan dan penuh kejahatan. Ia mempunyai jarak yang
jauh dari yang Maha Esa. Meskipun Plotinus berpendapat demikian bukan lantas
mengabaikan jasad seperti orang-orang gnostik. Tentang penciptaan, Plotinus berpendapat
bahwa Yang Paling Awal merupakan Sebab yang Pertama.
Disini mulailah Plotinus memulai teori emanasinya yang
belum pernah diajukan oleh filosof lainnya. Tujuan dari teori ini untuk
meniadakan anggapan keberadaan Tuhan sebanyak makhlukNya. Alam ini diciptakan
melalui proses emanasi yang berlangsung tidak dalam waktu. Sebab ruang dan
waktu terletak pada tingkat terbawah dari emanasi, ruang dan waktu adalah
pengertian dalam dunia yang lahir. Dalam emanasi The One (Yang Esa) tidak
mengalami perubahan. Yang Esa adalah semuanya, tetapi tidak mengandung di
dalamnya satu pun dari barang yang banyak (makhluk). Dasar makhluk tidak
mungkin kalau makhluk itu sendiri, akan tetapi Yang Esalah yang menjadi dasar
semua makhluk. Di dalam filsafat klasik Yang Esa itu dikatakan sebagai
penggerak yang pertama (al-muharrik al-awwal), yang berakibat Yang Esa
didiskripsikan berada di luar alam nyata. Dalam emanasi Plotinus alam ini
terjadi dari Yang Melimpah, yang mengalir itu tetap menjadi bagian Yang
Melimpah. Sehingga dapat disimpulkan dari teori Plotinus bahwa alam berada
dalam Tuhan. Hubungannya sama dengan hubungan suatu benda dengan bayangannya.
Makin jauh yang mengalir dari Yang Asal, maka makin tidak sempurna ia. Alam ini
merupakan bayangan yang asal akan tetapi tidak sempurna seperti halnya Yang
Asal.
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa corak filsafat Plotinus berkisar pada konsep Yang Satu. Artinya, semua yang ada bersumber dan akan kembali kepada Yang Satu. Oleh karenanya dalam realitas seluruhnya terdapat dua gerakan, yaitu:
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa corak filsafat Plotinus berkisar pada konsep Yang Satu. Artinya, semua yang ada bersumber dan akan kembali kepada Yang Satu. Oleh karenanya dalam realitas seluruhnya terdapat dua gerakan, yaitu:
a. Dari atas ke bawah.
Teori yang pertama ini dapat digambarkan sebagaimana dalam
emanasi. Pancaran dari Yang Satu memancar menjadi budi (nus). Akal Budi ini
sama dengan ide-ide Plato yang dianggap Plotinus sebagai intelek yang
memikirkan dirinya. Jadi akal budi sudah tidak satu lagi. Hal ini karena dalam
akal budi terdapat dualisme (pemikiran dan yang difikirkan). Dari akal budi itu
muncullah Jiwa Dunia (psykhe). Akhirnya dari jiwa dunia ini mengeluarkan materi
(hyle) yang bersama dengan jiwa dunia merupakan jagat raya. Karena materi
memiliki tingkatan paling rendah, maka ia berupa makhluk yang paling kurang
sempurna dan sumber-sumber kejahatan.
b. Dari bawah ke atas
Terma kedua ini dapat pula dikatakan dengan kebersatuan
dengan Yang Satu. Inilah yang menjadi tujuan dari filsafat yang dikonsep oleh
Plotinus. Pada bagian kedua ini jiwa manusia harus memusatkan diri kepada diri
sendiri terlebih dahulu, meninggalkan kesenangan obyek-obyek panca indera serta
menaikkan alam pemikirannya kepada alam pemikiran ke-Tuhan-nan. Dengan demikian
jiwa bisa mencapai alam jiwa-akal Mutlak (spirit-Nous). Fase terakhir dari
perjalanan menuju ketuhanan hanya bisa dicapai dengan mistik atau semedi
(estatic-mystical experience) yang oleh Plotinus disebut dengan istilah terbang
dari pribadi ke Pribadi (the flight of the alone to Alone) artinya menuju
kepada Tuhan. Demikian corak mistik dan agama pemikiran Plotinus. Pemikiran
tersebut kemudian oleh St. Agustinus dan Dyonisius ke dalam ajaran agama
Masehi, dan dengan demikian Plotinus dianggap sebagai bapak mistikbarat.
2. Ajaran tentang Jiwa
2. Ajaran tentang Jiwa
Menurutnya jiwa adalah suatu kekuatan ilahiyah dan
merupakan sumber kekekalan. Alam semesta berada dalam satu jiwa dunia. Jiwa
tidak dapat dibagi secara kuantitatif karena jiwa adalah sesuatu yang satu.
Satu disini dapat diartikan dalam setiap individu terdapat jiwa, sehingga jiwa
berjumlah sangat banyak. Dari jiwa dengan jumlah yang sangat banyak tadi,
antara jiwa yang satu dan lainnya memiliki kesatuan.
Dalam filsafat Plotinus dikemukakan pula adanya reinkarnasi
sebagaimana dalam teori filsafat Plato. Selain itu jiwa telah ada sebelum
keberadaan jasmani, sehingga jiwa bersifat kekal. Reinkarnasi ditentukan oleh
perilaku manusia pada saat hidupnya dan hanya jiwa yang kotor sajalah yang
mengalami reinkarnasi. hal ini dikarenakan jiwa yang bersih dan tidak ada
ikatan dengan dunia ia akan bersatu dengan Tuhan. Menurutnya jiwa yang tinggi
adalah jiwa yang tidak mengingat apa-apa kecuali Yang Tinggi.
3. Ajaran tentang Etika dan Estitika
Dalam pembahasan etika, Plotinus mengawalinya dengan
membahas kebebasan berkehendak yang dimiliki manusia. Pada dasarnya manusia
memiliki kebebasan, akan tetapi kebebasan tidak dapat diartikan secara
lahiriyah. Kebebasan yang dimaksud disini adalah manusia bebas memilih kepada
kebaikan ataukah keburukan. Menurutnya jiwa manusia berada dalam jiwa ilahi
(cenderung untuk baik) sehingga Plotinus menyimpulkan bahwa kebebasan yang
dimiliki oleh jiwa manusia dikarenakan jiwa manusia sebagian dari jiwa Ilahi.
Meskipun begitu manusiapun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya karena ia
telah diberi pikiran untuk memilih dan kebebasan untuk menentukan piihan.
Kemampuan dalam memilih hal yang baik ini digerakkan oleh cinta yang disandarkan
kepada Yang Esa.
Menurut Plotinus esensi keindahan tidak terletak dalam bentuk yang kasat mata, akan tetapi esensinya terletak pada keintiman seorang hamba dengan Tuhannya Yang Maha Sempurna. Dari pernyataannya ini timbul semacam sekala menaik tentang keindahan, mulai dari keindahan yang inderawi naik ke emosi kemudian ke susunan alam semesta yang bersifat immaterial. Jadi keindahan itu bertingkat mulai dari keindahan inderawi hingga keindahan Ilahiah. Menurutnya pula, hal itu dikatakan indah apabila mengikuti bentuk ideal. Penciptaan keindahan harus melalui komunikasi pikiran yang mengalir dari Tuhan.
Selain membicarakan keindahan Plotinus juga membicarakan tentang kejahatan. Pada intinya kejahatan tidak memiliki realitas metafisis, merupakan perbuatan aku yang rendah dan bukan realitas pada manusia. Sedangkan realitas manusia merupakan realitas aku yang murni yang terdiri dari logos dan nous. Logos menerima dari nous (akal) idea-idea yang kekal. Dengan perantara logos (pikiran), jiwa hanya dapat melakukan tugas yang mulia yang tujuannya bersatu dengan Tuhan. Kejahatan bukan realitas, akan tetapi kejahatan ada sebagai pelengkap dalam kesempurnaan alam.
Menurut Plotinus esensi keindahan tidak terletak dalam bentuk yang kasat mata, akan tetapi esensinya terletak pada keintiman seorang hamba dengan Tuhannya Yang Maha Sempurna. Dari pernyataannya ini timbul semacam sekala menaik tentang keindahan, mulai dari keindahan yang inderawi naik ke emosi kemudian ke susunan alam semesta yang bersifat immaterial. Jadi keindahan itu bertingkat mulai dari keindahan inderawi hingga keindahan Ilahiah. Menurutnya pula, hal itu dikatakan indah apabila mengikuti bentuk ideal. Penciptaan keindahan harus melalui komunikasi pikiran yang mengalir dari Tuhan.
Selain membicarakan keindahan Plotinus juga membicarakan tentang kejahatan. Pada intinya kejahatan tidak memiliki realitas metafisis, merupakan perbuatan aku yang rendah dan bukan realitas pada manusia. Sedangkan realitas manusia merupakan realitas aku yang murni yang terdiri dari logos dan nous. Logos menerima dari nous (akal) idea-idea yang kekal. Dengan perantara logos (pikiran), jiwa hanya dapat melakukan tugas yang mulia yang tujuannya bersatu dengan Tuhan. Kejahatan bukan realitas, akan tetapi kejahatan ada sebagai pelengkap dalam kesempurnaan alam.
4. Ajaran tentang Ilmu
Idea keilmuan tidak begitu maju pada Plotinus, karena ia
menganggap sains berada di bawah metafisik dan metafisika lebih rendah daripada
keimanan. Surga lebih berarti daripada bumi sebab surga itu merupakan tempat
peristirahatan jiwa yang mulia. Dari pendapatnya ini Plotinus mengekang
kebebasan akal dengan doktrin-doktrin agamanya ini. Tidak hanya Plotinus,
pengikutnya Simplicius bahkan tidak memberi ruang gerak kepada filsafat
rasional. Menurutnya orang yang mempelajari filsafat rasional sama halnya
melakukan kesia-siaan belaka bahkan mereka harus dimusuhi. Dari doktrin inilah
akhirnya kaisar Justianus melarang pengajaran filsafat (apapun) di Athena dan
menghukum berat orang-orang yang mempelajarinya.
Begitu pula Agustinus yang mengganti akal dengan iman sehingga potensi rasional yang diakui pada zaman Yunani digantikan dengan kuasa Tuhan. Menurutnya tidak perlu dipimpin oleh pendapat yang memiliki kebenaran relatif, karena agama memiliki kebenaran yang mutlak. Dari kesemua isi filsafat neo-Platonisme berujung bahwa kehidupan pertapa adalah kehidupan yang terbaik.
Begitu pula Agustinus yang mengganti akal dengan iman sehingga potensi rasional yang diakui pada zaman Yunani digantikan dengan kuasa Tuhan. Menurutnya tidak perlu dipimpin oleh pendapat yang memiliki kebenaran relatif, karena agama memiliki kebenaran yang mutlak. Dari kesemua isi filsafat neo-Platonisme berujung bahwa kehidupan pertapa adalah kehidupan yang terbaik.
Bertens K, Ringkasan Sejarah Filsafat (Yogyakarta: Kanisius, 2006)
Tafsir Ahmad, Filsafat Umum (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar